TEORI LABELING DAN
PEMBANGUNAN MANUSIA
Michael Sullivan
Aspek utama dalam
memahami praktek pekerjaan sosial terletak pada bagaimana pekerja sosial
mengidentifikasi dan membantu klien untuk memilih perilaku manusia yang perlu
diubah. Kebanyakan profesional setuju bahwa asesmen dan diagnosis yang efektif
merupakan dasar yang membantu bagi proses pekerjaan sosial. Intervensi pekerja
sosial selalu didasarkan pada beberapa pemahaman eksplisit atau implisit status
klien dan perubahan yang diperlukan. Meskipun asesmen klien didasarkan pada
kriteria yang berbeda, tergantung pada pendekatan pekerja sosial (psikoanalitik,
perilaku, genetik dan sebagainya), asesmen terhadap kondisi klien yang ada merupakan
dasar untuk intervensi. Oleh karena itu, akurasi dalam asesmen merupakan
prasyarat untuk intervensi yang efektif. Selain itu, ada pemahaman bahwa dengan
pelatihan kerja sosial, konsistensi dalam proses persepsi dapat terjamin.
Meskipun ada banyak penelitian di area ini, hasil yang didapat bisa
bertentangan. Hal ini dapat dikatakan bahwa pelatihan profesi pekerjaan sosial
melalui peningkatan pengetahuan dan pengalaman pekerja dalam pengamatan klinis
dan penilaian, dapat meningkatkan akurasi asesmen pekerja sosial. Bagaimanapun
juga pelatihan profesional memberikan kontribusi terhadap perkembangan
stereotip dalam asesmen selanjutnya terhadap perilaku klien (Bieri, Atkins,
Briar, Leaman, Miller & Tripodi, 1966; Crow, 1957 Quicke & Winter,
1994).
Bab ini membahas
bagaimana asesmen klinis dianggap sebagai satu bentuk proses general memahami
orang lain. Model persepsi ini berasal dari pengujian hipotesis terhadap teori persepsi
yang dikemukakan oleh Bruner (1951, 1957) dan Postman (1951). Diawali dengan
hipotesis atau harapan yang mempengaruhi pandangan individu dan bagaimana
individu berperilaku terhadap orang lain. Jarang Individu memberikan rangsangan
secara acak atau objektif. Oleh karena itu individu menyerap dan kode informasi
dari lingkungan yang relevan dengan hipotesis persepsi. Informasi yang relevan
adalah yang dapat digunakan untuk mengkonfirmasi atau menyangkal hipotesis
persepsi. Setelah itu individu mencoba untuk menentukan apakah ada informasi
baru yang menegaskan hipotesis. Jika ada, persepsi divalidasi dan selesai sehingga
proses ini dapat disimpulkan. Jika tidak ada, hipotesis direvisi sesuai dengan umpan balik
internal dan pembelajaran yang terjadi selama fase ketiga "trial and check"
dan seluruh proses diulang sampai terbentuk persepsi yang stabil.
Dalam pertumbuhan dan
perkembangan manusia, hipotesis persepsi merupakan harapan atau kecenderungan
yang dikembangkan dari pengalaman masa lalu, yang berfungsi untuk memilih,
mengatur, dan mengubah ruang lingkup informasi (Postman, 1951).
Oleh karena itu,
pengaruh potensial dari pengalaman masa lalu dapat mengarahkan pada proses
perseptual dari lima determinasi fungsi:
(a) frekuensi dari
konfirmasi terakhir;
(b) monopoli, persaingan kecil
hipotesis memungkinkan untuk terbentuknya hipotesis yang kuat;
(c) konsekuensi kognitif,
suatu hipotesis menjadi kuat karena level integrasi dalam sistem pendukung
hipotesis meningkat;
(d) konsekuensi motivasi,
hubungan yang diberikan suatu hipotesis terhadap tujuan perseptor;
(e) konsekuensi sosial,
sejauh mana hipotesis dapat sesuai dengan hipotesis pengamat lainnya.
Menurut Bruner (1951),
semakin kuat hipotesis maka semakin besar kemungkinan bahwa hal tersebut akan
menjadi merangsang terjadinya proses persepsi. Selain itu, informasi yang relatif
diperlukan untuk mengkonfirmasi hipotesis, dan informasi lebih lanjut yang bertentangan
akan diminta untuk membantah persepsi tersebut.
TEORI LABELING
Bab ini membahas asumsi dasar teori pelabelan,
yang meliputi :
(a) tindakan atau perilaku
yang ditunjukkan oleh seorang individu ,
(b) tindakan yang dievaluasi
dan diberi label sesat oleh orang yang ditunjuk sebagai Labeler;
(c) individu yang
menunjukkan tindakan (perilaku) dan siapa yang disebut sebagai Labeler tersebut
.
Sebuah label diagnostik
sangat penting karena ketika klien diberi label dengan benar, mereka dapat memenuhi
persyaratan untuk menerima layanan remedial yang diperlukan. Dengan demikian,
tujuan dari bab ini ada dua:
(a) untuk memeriksa masalah
konseptual yang terlibat dalam teori pelabelan, dan
(b) untuk menggambarkan
variabel penting yang diperlukan untuk memastikan validitas dan reliabilitas
dalam pelabelan perilaku manusia .
Sebagian besar dari
studi proses pelabelan telah mengeksplorasi bagaimana label penyimpangan dapat
mempengaruhi perilaku individu. Hal ini berasarkan perumusan teori pelabelan
Edwin Lemert (1951, 1967), dengan penekanan pada penyimpangan sekunder yang
dihasilkan oleh reaksi sosial dan internalisasi stereotip budaya yang
mengelilingi perilaku yang berlabel. Pelabelan teori berpendapat bahwa
pelabelan membantu menciptakan dan memperkuat penyimpangan. Selain itu, mereka
berpendapat bahwa label mendorong pelaku untuk melihat diri mereka sebagai yang
menyimpang dan, oleh karena itu mereka juga bertindak dengan cara menyimpang .
0 komentar:
Posting Komentar