BAB I
PENDAHULUAN

PERKEMBANGAN ANAK USIA SEKOLAH

Masa pertumbuhan anak seharusnya diperhatikan secara seksama oleh orang tua, karena proses tumbuh kembang anak akan mempengaruhi kehidupan mereka pada masa mendatang. Jika perkembangan anak luput dari perhatian orang tua maka anak akan tumbuh seadanya sesuai dengan yang hadir dan menghampiri mereka.
Perkembangan anak merupakan segala perubahan yang terjadi pada usia anak, yaitu pada masa infancy todlerhood (usia 0-3 tahun), early childhood (usia 3-6 tahun), middle childhood (usia 6-11 tahun). Perubahan yang terjadi pada diri anak tersebut meliputi perubahan pada aspek fisik, emosi, kognitif, dan psikososial.
Masa usia sekolah merupakan masa kelanjutan dari masa bayi dan prasekolah anak. Masa ini terjadi dari usia 6 sampai 12 tahun yang ditandai dengan terjadinya perkembangan-perkembangan pada diri anak diantaranya fisik dan juga kognitifnya. Kemudian dalam makalah ini akan dibahas tentang bagaimanakah pertumbuhan dan perkembangan fisik dan kognitif anak di usia sekolah tepatnya sekolah dasar.

Perkembangan Fisik Anak Usia Sekolah

Pada masa pertengahan dan akhir anak-anak merupakan periode pertumbuhan fisik yang lambat dan relatif seragam sampai mulai terjadi perubahan-perubahan pubertas, kira-kira dua tahun menjelang anak menjadi matang secara seksual, pada masa ini pertumbuhan berkembang pesat. Oleh karena itu, masa ini sering disebut juga sebagai “periode tenang” sebelum pertumbuhan yang cepat menjelang masa remaja, meskipun merupakan masa tenang, tetapi hal ini tidak berarti bahwa pada masa ini tidak terjadi proses pertumbuhan fisik yang berarti.

·           Aspek dari pertumbuhan fisik
Pada masa ini peningkatan berat badan anak lebih banyak dari pada panjang badannya. Peningkatan berat badan anak selama masa ini terjadi terutama karena bertambahnya ukuran system rangka dan otot, serta ukuran beberapa organ tubuh. Pada saat yang sama kekuatan otot-otot secara berangsur-angsur bertambah dan gemuk bayi ( babyfat ) berkurang. Pertambahan kekuatan otot ini adalah karena faktor keturunan dan latihan ( olah raga ). Karena factor perbedaan jumlah sel-sel otot, maka pada umumnya untuk anak laki-laki lebih kuat dari pada anak perempuan.

·           Perkembangan motorik 
Dengan terus bertambahnya berat dan kekuatan badan,maka pada masa ini perkembangan motorik menjadi lebih halus dan lebih terkoordinasi dibandingkan dengan awal masa anak-anak. Anak-anak terlihat lebih cepat dalam berlari dan makin pandai meloncat, anak juga makin mampu menjaga keseimbangan badannya.

Untuk memperhalus keterampilan-keterampilan motorik, anak-anak terus melakukan berbagai aktifitas fisikyang terkadang bersifat informal dalam bentuk permainan. Disamping itu, anak-anak juga melibatkan diri dalam aktivitas permainan olah raga yang bersifat formal, seperti senam, berenang, dan lain sebagainya.

Beberapa perkembangan motorik ( kasar maupun halus ) selama periode ini antara lain :
Anak usia 5 tahun
·         Mampu melompat dan menari
·         Menggambarkan orang yang terdiri dari kepala, lengan dan badan
  termasuk kaki
·         Dapat mnghitung jari-jarinya
·         Mendengar dan mengulang hal-hal penting dan mampu bercerita
·         Mempunyai minat terhadap kata-kata baru beserta artinya
·         Menprotes bila dilarang apa yang menjadi keinginannya
·         Mampu membedakan besar dan kecil
Anak usia 6 tahun
·         koordinasi mata dan tangan
·         ketangkasan meningkat
·         melompat tali
·         bermain sepeda
·         mengetahui kanan dan kiri
·         mungkin bertindak menentang dan tidak sopan
·         mampu menguraikan objek-objek dengan gambar

Anak usia 7 tahun
·         tangan anak semakin kuat
·         mulai membaca dengan lancar
·         cemas terhadap kegagalan
·         peningkatan minat pada bidang spiritual
·         kadang malu dan sedih

Anak usia 8-9 tahun
·         kecepatan dan kehalusan aktifitas motorik meningkat
·         mampu menggunakan peralatan rumah tangga
·         keterampilan lebih individual
·         ingin terlibat dalam sesuatu
·         menyukai kelompok dan mode
·         mencari teman secara aktif



Anak usia 10-12 tahun 
·         perubahan sifat berkaitan dengan berubahnya postur tubuh yang
 berhubungan dengan pubertas mulai nampak 
·         mampu melakukan aktifitas rumah tangga, seperti mencuci dan  
 lain-lain
·         adanya keinginan untuk menyenangkan dan membantu orang lain
·         mulai tertarik dengan lawan jenis

Perkembangan Kognitif Anak Usia Sekolah 

Seiring dengan masuknya anak ke sekolah dasar, kemapuan kognitifnya urut mengalami perkembangan yang pesat. Karena dengan masuk sekolah, berarti dunia dan minat anak bertambah luas. Dengan meluasnya minat maka bertambah pula pengertian tentang manusia dan objek-objek yang sebelumnya kurang berarti bagi anak.
Dalam keadaan normal, pikiran anak usia sekolah berkembang secara berangsur-angsur. Kalau pada masa sebelumnya daya fikir anak masih bersifat imajinatif dan egosentris maka pada masa ini daya piker anak berkembang kearah berpikir kongkrit, rasional dan objektif. Daya ingatnya menjadi sangat kuat sehingga anak benar-benar berada dalam suatu stadium belajar.
Menurut teori piaget, pemikiran anak masa sekolah dasar disebut juga pemikiran operasional kongkrit (concrete operational thought), artinya aktivitas mental yang difokuskan pada objek-objek peristiwa nyata atau kongkrit.dalam upaya memahami alam sekitarnya mereka tidak lagi terlalu mengandalkan informasi yang bersumber dari panca indera, karena anak mulai mempunyai kemampuan untuk membedakan apa yang tampak oleh mata dengan kenyataan sesungguhnya. Dalam masa ini, anak telah mengembangkan 3 macam proses yang disebut dengan operasi-operasi, yaitu:
·         Negasi (negation) Yaitu pada masa kongkrit operasional, anak memahami hubungan-hubungan antara benda atau keadaan yang satu dengan benda atau keadaan yang lain.
·         Hubungan timbal balik (Resiprok) Yaitu anak telah mengetahui hubungan sebab-akibat dalam suatu keadaan.
·         Identitas  Yaitu anak sudah mampu mengenal satu persatu deretan benda yang ada.
Operasi yang terjadi dalam diri anak memungkinkan pula untuk mengetahui suatu perbuatan tanpa melihat bahwa perbuatan tersebut ditunjukkan. Jadi pada tahap ini anak telah memiliki struktur kognitif yang memungkinkannya dapat berfikir untuk melakukan suatu tindakan tanpa ia sendiri bertindak secara nyata.

Perkembangan memori
Selama periode ini, memori jangka pendek anak telah berkembang dengan baik. Akan tetapi, memori jangka panjang tidak terjadi banyak peningkatan dengan disertai adanya keterbatasan-keterbatasan. Untuk mengurangi keterbatasan-keterbatasan tersebut, anak berusaha menggunakan strategi memori yaitu merupakan prilaku disengaja yang digunakan untuk meningkatkan memori. Matlin (1994) menyebutkan empat macam strategi memori yang penting, yaitu:

·           Rehalsal (pengulangan)
Suatu strategi meningkatkan memor idengan cara mengulang berkali-kali informasi yang telah disampaikan.
·           Organization (organisasi)
Pengelompokan dan pengkategorian sesuatu yang digunakan untuk meningkatkan memori. Seperti anak SD sering mengingat nama-nama teman sekelasnya menurut susunan dimana mereka duduk dalam satu kelas.
·           Imagery (perbandingan)
Membandingkan sesuatu dengan tipe dari karakteristik pembayangan dari seseorang.
·           Retrieval (pemunculan kembali)
Proses mengeluarkan atau mengangkat informasi dari tempat penyimpanan. Ketika suatu isyarat yang mungkin dapat membantu memunculkan kembali sebuah memori, mereka akan menggunakan secara spontan.
Selain strategi-strategi memori diatas, terdapat hal-hal lain yang mempengaruhi memori anak, seperti tingkat usia, sifat anak (termasuk sikap, kesehatan, dan motivasi), serta pengetahuan yang diperoleh anak sebelumnya.

Perkembangan pemikiran kritis
Perkembangan pemikiran kritis yaitu pemahaman atau refleksi terhadap permasalahan secara mendalam, mempertahankan pikian agar tetap terbuka, tidak mempercayai begitu saja informasi-informasi yang datang dari berbagai sumber, serta mampu berpikir secara reflektif dan evaluatif. 

Perkembangan kreativitas
Dalam tahap ini anak-anak mempunyai kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru. Perkembangan ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan, terutama lingkungan sekolah.

Perkembangan bahasa
Selama masa anak-anak awal, perkembangan bahasa terus berlanjut. Perbendaharaan kosa kata dan cara menggunakan kalimat bertambah kompleks. Perkembangan ini terlihat dalam cara berpikirtentang kata-kata, struktur kalimat dan secara bertahap anak akan mulai menggunakan kalimat yang lebih singkat dan padat, serta dapat menerapkan berbagai aturantata bahasa secara tepat.

PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL ANAK USIA SEKOLAH MENURUT ERIK H. ERIKSON
Pada usia ini dunia sosial anak meluas keluar dari dunia keluarga, anak bergaul dengan teman sebaya, guru dan orang dewasa lainnya. Pada usia ini keingintahuan menjadi sangat kuat dan hal itu berkaitan dengan perjuangan dasar menjadi berkemampuan (competence). Anak yang berkembang normal akan tekun belajar membaca dan menulis, belajar berburu dan menangkap ikan, atau belajar ketKrisis erampilan-keterampilan yang dibutuhkan di masyarakatnya. Usia sekolah bukan berarti anak harus belajar di sekolah formal. Pada masyarakat yang maju, sekolah dan guru professional berperan penting dalam pendidikan anak, sedang di masyarakat terbelakang (yang belum memiliki sekolah formal) orang dewasa memakai metode-metode yang tidak formal tetapi sama-sama efektif untuk mengajar anak bermasyarakat.


Aspek Psikoseksual : Terpendam (laten)
Erikson setuju dengan freud bahwa usia sekolah adalah tahap latency. Memendam insting seksual sangat penting karena akan membuat anak dapat memakai energinya untuk mempelajari teknologi dari budayanya, dan mempelajari strategi interaksi sosialnya. Ketika anak bermain dan bekerja keras mempelajari dua hal itu, mereka mulai membentuk gambaran tentang diri sendiri, sebagai berkemampuan atau tidak berkemampuan (competence – uncompetence). Gambaran ini menjadi asal muasal identitas ego perasaan “aku” atau “keakuan” yang akan berkembang masak pada usia adolesen.
Krisis Psikososial : Ketekunan Vs Inferioritas
Pada tahap laten perkembangan seksual terpendam dan berkembang sosial menjadi luar biasa. Krisis psikososial pada tahap ini adalah antara ketekunan dengan perasaan inferior (industry-inferiority). Ketekunan adalah kualitas sintonik yang berarti tekun, bersedia tetap sibuk dengan satu kegiatan sampai selesai. Anak usia sekolah belajar bekerja dan bermain yang keduanya diarahkan untuk memperoleh keterampilan kerja dan untuk mempelajari aturan kerjasama.
Kalau anak belajar mengerjakan sebaik-baiknya, berarti mereka mengembang- kan perasaan ketekunan, tetapi kalau kerjanya tidak cukup untuk mencapai tujuan, mereka mendapat perasaan inferiorita-kualitas distonik dari usia sekolah. Distonik-distonik pada tahap sebelumnya juga menyumbang terbentuknya perasaan tidak mampu atau inferiorita. Misalnya, anak yang memiliki perimbangan yang terlalu banyak berdosa pada usia bermain, mereka akan cenderung merasa inferior dan tidak mampu pada usia sekolah. Orang tidak mungkin lepas dari kegagalan, dalam hal ini Erikson optimistic bahwa orang dapat menangani krisis pada tahap yang dilakoninya walaupun mereka pernah gagal pada tahap terdahulu. Perimbangan antara ketekunan dan inferiorita harus condong ke arah ketekunan, walaupun seperti distonik yang lain, inferiorita tidak boleh dilupakan, seperti yang dikemukakan Adler inferiorita dapat menjadi pemicu untuk melakukan yang terbaik. Tentu saja inferiorita tidak boleh terlalu banyak, yang akan berakibat menghalangi aktivitas produktif dan merusak perasaan berkemampuan.
Virtue : Kompetensi
Dari konflik antara ketekunan dan inferiorita anak mengembangkan kekuatan dasar : kemampuan (competence). Virtue itu diperoleh melalui latihan kecakapan gerak dan kecerdasan untuk menyelesaikan tugas. Anak membutuhkan perintah dan metode, tetapi yang lebih penting adalah pemanfaatn kecerdasan dan pemanfaatn energy fisik yang berlimpah untuk melaksanakan sekolah, tugas di rumah, seni, olahraga keterampilan, menjamin tidak berkembangnya perasaan kurang mampu disbanding orang lain.
Kalau perjuangan tahap usia sekolah cenderung memenangkan inferioritas atau sebaliknya, ketekunan menang atau secara berlebihan (tanpa inferioritas), anak menjadi mudah menyerah dan regresi ke tahap perkembangan sebelumnya.mereka mungkin menjadi sibuk dengan fantasi genital anak-anak dan odipus, dan menghabiskan waktunya untuk bermain yang tidak produktif. Regresi semacam ini disebut inersia (inertia) atau kemalasan yang sangat. Inersia adalah kebalikan dari kompetensi dan menjadi sumber patologi pada usia sekolah.
Ritualisasi-Ritualisme : Formal Vs Formalisme
Lingkungan social yang luas memaksa anak untuk mengembangkan tehnik atau metode bagaiman berinteraksi secara efektif. Di sekolah anak juga banyak belajar tentang system, aturan, metode, yang membuat suatu pekerjaan dapat dilakukan dengan efektif dan efisien. Itulah ritualisasi formal; interaksi yang mementingkan metode atau cara yang tepat, untuk memperoleh hasil yang sempurna. Melalui ritualisasi formal anak belajar mengerjakan sesuatu dengan metode yang standar. Ini menjadi awal interaksi dari anak dengan dunia kerja.
Perkembangan negative dari formal adalah ritual formalism (formalism). Disini orang sangat mementingkan metode pekerjaan itu harus dikerjakan dengan benar tidak penting bagaimana hasilnya. Interaksi formalism menjadi kaku, penuh aturan dan tidak menjalin persahabatan yang akrab. Dalam dunia kerja, formalism membuat manusia menjadi mesin, bekerja sesuai standar/aturan, tanpa memasukkan nilai-nilai kemanusiaan di dalamnya. Contoh ekstrim formalism : gejala obsesif,neurotic mencuci tangan terus menerus.






BAB II
HASIL OBSERVASI

Identitas Responden berdasarkan Asesmen Biopsikososial Spiritual
Biologis
·         Gambaran fisik
Nama                            :    “FR”
jenis kelamin               :    laki-laki
umur                            :    7 tahun
berat badan                 :    26 kg
tinggi badan                :    130 cm
kecacatan                     :    tidak ada
tanda kekerasan         :    tidak ada.
alamat                          :    Dago Barat
·         Penampilan Klien
·         cara berbicara
pada awal berkenalan dengan “FR”. “FR”masih kaku dan terkadang malu, dan setelah respon menjelaskan kepada Fr, tentang tujuan, barulah Fr bebicara kepada praktikan.
·         Kehangatan
Terlihat “FR” sangat aktif dan bersikap sopan dan mudah berkomunikasi.
·         Respon awal terhadap wawancara
pada awalnya, “FR” sedang bermain dengan beberapa teman-temannya, dan praktikan mendekatinya, dan kemudian dia mulai berbicara walaupun terlihat gelisa karena menganggap praktikan orang lain yang tiba-tiba menghampirinya pada saat bermain.
·         body expression
terkadang “FR” menggoyangkan tubuhnya dan tersenyum kepada praktikan, dan kadang dia malu untuk menjawab pertanyaan yang praktikan ajukan.
·         Status Kesehatan
·         “FR” jarang sakit dan dianggap sehat oleh beberapa teman bermainnya.
·         “FR” menurut tetangganya tidak pernah terlihat sakit. Ketika ibu-nya masih sering bersamanya, namun ketika ibu-nya meninggalkan, dia sering terliat murung dan memiliki kurang percaya diri.

Psikologis
·         Gambaran tentang kondisi emosi klien
·         Saat ini “FR” tinggal bersama dengan ayah dan neneknya, menurut tetangganya “FR” merasa kekurangan kasih sayang dari seorang ibu. Terkadang dia mendapat perlakuan kurang baik oleh beberapa teman-temannya karena faktor usia yang berbeda, yang mengakibatkan “FR” menangis. Dan dia  dianggap oleh tetangganya anak yang manis dan tidak pernah melakukan hal-hal yang kurang baik dibanding teman-teman bermainnya.
·         Saat Praktikan berhadapan dengan “FR”, praktikan melihat tidak ada permasalahan atau tingkah laku yang dibuat oleh “FR”.
·         Selama tinggal bersama neneknya, menurut tetangganya, kerap mendapatkan perlakuan kurang baik dari teman-temannya.
·         Ketika bermain dengan teman-temannya “FR” cenderung ceria dan seakan-akan tanpa beban.
·         “FR” memiliki kecerdasan setelah praktikan mengajukan beberapa pertanyaan, mengenai beberapa pengetahuan dasar.
·         “FR” mengatakan bahwa dia sekarang rindu dengan ibu yang lagi melakukan pendidikan diluar kota.
·         “FR” dalam mengerjakan pelajaran terkadang meminta petunjuk kepada ibunya. Ketika ada hal-hal yang sulit untuk dikerjakan.

Kesehatan Jiwa 
·         Menurut pihak tetangga dan kerabat “FR”, dia sopan dan tidak melakukan hal-hal yang kurang baik.
·         Setelah ditinggal oleh ibunya, “FR” terkadang jarang bermain dengan teman-temannya.
·         Secara umum “FR” tidak mengalami gangguan jiwa apapun. Ia dapat berespon normal layaknya anak umur 7 tahun.
·         “FR” terkadang mengalami perlakuan kurang baik dari teman-teman sekolahnya.yang dimana sebelumnya ibunya yang selalu mengantar dan menjemputnya ketika ibunya masih berada di rumahnya. Namun sekarang “FR” harus diantar dan dijemput oleh neneknya. Dan Ayahnya hari sabtu. Karena ayahnya pada hari sabtu libur kerja.

Sosial :
·         Keluarga “FR”, saat ini biaya sekolah “FR” tidak mengalami kendala karena urusan pembiayaan itu langsung dibayarkan ke sekolah.
·         Ketika “FR”mau belanja atau jajan biasanya meminta langsung sama kepada ayahnya atau neneknya.
·         Keluarga “FR” melarang anaknya untuk meminta uang kepada tetangganya. Ataupun meminjan di warung makanan. Karena orang tuanya telah mendidiknya.
·         Daerah tempat tinggal “FR” tidak mengalami perubahan apapun karana orang tua “FR” tidak memiliki rumah. Walau saat ini orang tua “FR” sedang mencicil sebidang tanah.
·         Ayah bekerja disalah satu hotel berbintang disekitar bandung. Dan ibunya “FR” bekerja di salah satu dinas yang ada dibandung, namun untuk saat ini ibu “FR” lagi melaksanakan tugas belajar diluar kota.
·         Situasi terkini setelah “FR” selama ditinggal ibunya “FR” mengalami penurunan belajar padahal sudah mendekati ujian semester. Yang dilakukan gurunya yakni memberikan motifasi dan melakukan komunikasi kepada ibu ‘FR” karena salah satu penurunan cara belajar “FR” ditinggal ibunya. Padahal seusia “FR” sangat membutuhkan kasih sayang orang tua.
·         “FR” adalam melaksanakan kegiatan sangat terbatas karena nenek “FR” sangat tegas dan ketat dalam menjaga “FR”. Bedah ketika ibunya berjaga “FR” tetap melakukan pengontrolan dan melakukan kegiatan bermain namun ibu “FR” selalu menjaga dan memberi pertimbangan “FR” sebelum melakukan sesuatu.

Spiritual :
·         Identitas budaya “FR” dan keluarganya adalah Sunda.
·         Agama “FR” adalah Islam, dan ia memiliki ketertarikan untuk mempelajari Islam lebih dalam.
·         “FR” sedang melaksanakan kegiatan Metode Membaca Iqra (TPQ) disalah satu Masjid dekat rumah “FR”.




BAB III
IMPLIKASI PRAKTIK PEKERJAAN SOSIAL
·      Identifikasi Masalah
Hasil asesmen yang dilakukan “FR” mengenai data biologis, psikologis, sosial, dan spiritual yang telah dilakukan pada “FR” ditemukan beberapa permasalahan, yaitu sebagai berikut :
·      Usia “FR” masih berumur 7 tahun dan kebanyakan teman bermain “FR” lebih tua dari “FR” sehingga terkadang terjadi percekcokan. Dan “FR” yang selalu kalah. “FR” bisa mengakibatkan masalah fisik (memar, luka, dsb.)
·      Adanya sifat usil yang dilakukan “FR” kepada neneknya, walaupun sifatnya bercanda dan dapat mengakibatkan masalah perkembangan psikologis dan dapat melakukannya pada orang lain,
·      “FR” terlihat manis dan cakep yang dimana “FR” sering mendapatkan perlakuan kurang baik terhadap dirinya karena siapapun yang melihatnya sangat gemmes dan ingin mencubit pipinya. Dan ini dapat mengakibatkan pipi “FR” berakibat merah dan berbekas.
·      Minat dan prestasi belajar “FR” yang kurang
·      Pengasuhan “FR” yang kurang kasih sayang dan perhatian karena adanya urusan kerjaan dan meanjutkan pendidikan diluat kota.
·      Rencana Intervensi (menurut Vimala Pillari)
·      In Child Abuse, social worker must :
ü recognizing and preventing child maltreatment (mengenali dan mencegah penganiayaan anak)
ü give training program that teach effective methods of preventing miscommunication between children and caregivers (memberikan program pelatihan yang mengajarkan metode yang efektif untuk mencegah miskomunikasi antara anak dan kerabat serta tetangga)
ü working directly with client as well as lobbying for better legislation and making people in all parts of the client aware of that issues (bekerja secara langsung dengan klien serta melobi undang-undang yang lebih baik dan membuat orang-orang di sekitar klien menyadari isu tersebut)
ü make the child comfortable and relaxe for therapy (harus membuat anak nyaman dan relaxe untuk terapi)
ü make special efforts to involve family members as necessary or feasible, such as peer groups of the child (melakukan upaya khusus untuk melibatkan anggota keluarga anak atau orang lain yang layak dilibatkan, seperti peer group dari anak) 
·      Neglected, social worker must to :
ü aware of the multifaceted aspect of the child life and his place at home or panti (menyadari aspek multifaset dari kehidupan anak dan tempatnya di rumah atau panti)
ü working directly with client as well as lobbying for better legislation and making people in all parts of the client aware of that issues (bekerja secara langsung dengan klien serta melobi undang-undang yang lebih baik dan membuat orang-orang di sekitar klien menyadari isu tersebut)
ü implement the family meetings and case conferences to discuss the case (melaksanakan pertemuan keluarga dan konferensi kasus untuk membahas permasalahan kasus yang menimpa klien)
ü implement training program about good parenting to caregivers in panti and the parents of the child or family members as necessary or feasible (melaksanakan program training tentang pengasuhan anak yang baik kepada kerabat maupun tetangga di lingkungan tempat tinggal “FR”, yang terdekat atau yang layak untuk dilibatkan dalam pengasuhan anak)
ü reunification child to his parents (penyatuan kembali anak ke orang tuanya)
·      Learning dissabilities, social work can do :
ü Learn about the different types of learning dissabilities to pin point the specific cognitive and academic deficits that hamper a child performance in school (mempelajari dan mengkaji jenis kesulitan belajar yang dihadapi oleh anak untuk menandai defisit kognitif dan akademik yang menghambat kemampuan anak di sekolah)
ü Working with child and his teacher could plan instructions to improve a child skill (bekerja bersama dengan anak dan gurunya di sekolah untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan anak tersebut)
ü make special efforts to involve family members as necessary or feasible, such as peer groups of the child (melakukan upaya khusus untuk melibatkan anggota keluarga anak atau orang lain yang layak dilibatkan, seperti peer group dari anak).

Sekian dan Terimakasih














Daftar Pustaka


Alwisol. 2009. Psikologi Kepribadian. Malang : Universitas Muhammadiyah Malang.

Samsunuwiyati Mar’at, samsunuwiyati Prof. Dr. hj. S.psi, 2005. Psikologi Perkembangan. Bandung : PT Remaja Rosda Karya.

Pillari, Vimala. 1998. Human Behavior in the Social Environment: The Developing Person in a Holistic Context.
.








0 komentar:

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.