BAB I
PENDAHULUAN
Contoh
kasus :
Formulir
rujukan perencanaan terminasi yang diterima oleh Rose Hernandez, pekerja sosial
medis di Rumah Sakit, menunjukkan bahwa Dr. Brown menghendaki ia melakukan
transfer ke Panti Asuhan Lanjut Usia Hana bagi Ny. Douglas. Ny. Douglas berusia 80-an tahun yang baru saja
mengalami retak persendian. Menurut informasi yang tertera dalam formulir
rujukan, Ny. Douglas Ny. Douglas menolak mematuhi perintah dokter. Sebutannya
berubah dari ibu yang manis menjadi ibu yang sering marah, agresif, bandal, dan
tidak mau bekerjasama. Ketika Rose berjumpa Ny. Douglas pertama kali, Ny.
Douglas memberikan banyak komentar.
“Aku
berharap anda berada di sini untuk memberitahukan kepadaku apa yang aku harus
lakukan, seperti yang dilakukan oleh orang lain kepadaku. Aku ingin pulang. Aku
tidak mau tinggal di panti asuhan bersama orang-orang lanjut usia itu. Tidak
enak rasanya terkurung lama di rumah sakit.
”Rose
bertanya, “Sejak persendian anda retak, segala sesuatu nampaknya di luar
kendali, Bu Ny. Douglas?” “Ya, benar,
”
Ny. Douglas menyahut. “Aku ingin berteriak. Aku ingin keluar dari lingkungan
yang gila ini.” Rose menanggapi, “Anda ingin kembali untuk mengurus diri anda
sendiri.” Ny. Douglas menyahut, “Aku lelah di rumah sakit, disuruh-suruh
melakukan ini dan itu setiap hari. Teman-temanku bilang bahwa aku harus
bersyukur. Apa? Dari mata teman-temanku yang datang membesukmereka pasti
bilangt, “Kasihan si Ny. Douglas.’ Dan
ada juga yang bilang itu semua gara-gara aku. Lain kali kalau ia dating aku akan
berpura-pura tidur saja. Tetapi barangkali mereka benar. Barangkali aku
hanyalah seorang nenek-nenek yang menuntut terlalu banyak.”
Ibu
melanjutkan, “Aku hanya ingin merasakan kehangatan rumahku, bukan mencium sprei
rumah sakit yang dingin. Aku ingin mencium tunas bunga-bunga di taman rumahku,
bukan bau obatan-obatan yang berhamburan di udara. Aku ingin menikmati kue
buatanku sendiri, bukan makanan yang rasanya tidak jelas. Aku ingin pulang.
Rasanya aku tidak akan pernah pulang ke rumahku lagi kalau tidak sekarang !”
Percakapan
berlanjut beberapa lama, menyusul pertanyaan Rose, “Bagaimana anda tahu kapan
anda merasakan harapan lagi?”
Ny.
Douglas menjawab, “Ketika aku dapat berjalan. Ketika aku dapat membuat
keputusan-keputusan untuk diriku sendiri.” Kemudian Ny. Douglas menjangkau dan
meraih tangan pekerja sosial sambil berkata, “Aku punya rencana yang aku ingin
lakukan. Keputusan-keputusan sulit yang harus aku lakukan. Dan aku cukup
tangguh untuk melakukannya !”
Contoh
ini melahirkan serangkaian pertanyaan yang meliputi nilai-nilai dan etika,
seperti: Apa akibat-akibat dari pandangan masyarakat terhadap orang-orang
lanjut usia? Bagaimana nilai-nilai Ibu Ny. Douglas mempengaruhi pandangannya
terhadap dirinya sendiri dan orang lain, pilihan-pilihan yang ada padanya, dan
pemecahan masalahnya ? Bagaimana pandangan ketuaan (ageism) mempengaruhi
bagaimana pekerja social berinteraksi dengan orang-orang lanjut usia? Bagaimana
kira-kira akibatnya apabila pekerja sosial yakin bahwa orang-orang lanjut usia
tidak mampu membuat keputusan-keputusan bagi diri mereka sendiri? Apakah
percakapan itu akan berlangsung secara berbeda seandainya Ny. Douglas masih
muda ? Konflik apa yang dihadapi oleh Rose seandainya Ny. Douglas menolak
kembali ke rumah walaupun keputusan itu dapat menyelamatkan dirinya dari
resiko?, Pertanyaan-pertanyaan ini menunjukkan pentingnya pertimbangan
nilai-nilai dan etika dalam praktek pekerjaan sosial sehari-hari.
Melihat
kondisi yang dialami itu Ny. Douglas yang ingin merasakan kembali suasana rumah
yang dia tempati sebelum mengalami masalah retak persendian sehingga aktifitas
yang seperti yang dia lakukan tidaklah mungkin untuk dilakukan kembali. Ny
Douglas ingin kembali merasakan hal-hal yang pernah dia lakukan semenjak Ny
Douglas masih sehat.
Keteguhan
dan jiwa kemandirian Ny Doglas untuk dapat mandiri sendiri ini demi untuk tidak
menyusahkan orang lain karna Ny Douglas sendiri pahan tentang karakter yang
dimiliki.
Peran
pekerja sosial dalam menyelesaikan permasalahan Ny Douglas sangatlah mudah. Melaksanakan
profesi seorang pekerja sosial dengan cara terus melakukan mendekatan yang
bersifat formal saja untuk dapat menerima empaty dari tugas seorang pekerja
sosial.
Sebagai
profesi pekerja sosial haruslah berani mengambil keputusan serta tanpa harus
melanggar kode etik yang ada, keputusan inilah yang harus dilakukan seorang
pekerja sosial demi menjaga Ny Douglas dari hal – hal yang tidak diinginkan.
Dengan
sifat kemandirian yang ada pada Ny Douglas, haruslah diberi kesempatan didalam
tempat yang menurutnya masih peka. Demi
untuk menjaga dan mempertahankan tingkah laku yang sering dia lakukan.
Ny.
Douglas sangat peka terhadapat tempat yang dia gunakan dan mengakibatkan terhalangnya kehidupan, terhambatnya
spontanitas, tersumbatnya pertumbuhan dan ungkapan kemampuan-kemampuan
inderawi, emosional dan intelektualis individu (sihombing:2005).
Melihat
kondisi yang ada nilai yang dillakukan individu namun diterjemahkan berbeda
dengan individu yang lain. Yang dapat menimbulkan perbedaan yang mengarahkan
pada tindakan yang berlawanan.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
Nilai-nilai
dan Etika :
Defenisi nilai :
Menyatakan
nilai adalah segala sesuatu yang dihargai masyarakat
karena mempunyai daya guna fungsional bagi perkembangan kehidupan manusia.
Mengemukakan
nilai adalah asumsi yang abstrak dan sering tidak disadari tentang apa yang
dianggap penting dalam masyarakat. (Kimball Young) Nilai sosial
adalah nilai yang dianut oleh suatu masyarakat,
mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk oleh masyarakat.
Nilai
ialah landasan bagi praktek pekerjaan sosial. pekerjaan sosial ialah suatu
profesi yang berdasarkan nilai yang merupakan “serangkaian keinginan-keinginan
yang berkaitan dengan perbuatan-perbuatan yang dianggap baik dan bagaimana
kebaikan itu seharusnya dilakukan” (Levy, 1976,p.234). Dalam kenyataan, ada
dimensi-dimensi nilai dan etika pada hampir semua aspek pekerjaan sosial
(Reamer, 1999).
Definisi Etika
Etika (Yunani
Kuno:
"ethikos", berarti "timbul dari kebiasaan") adalah
sebuah sesuatu dimana dan bagaimana cabang utama filsafat
yang mempelajari nilai atau
kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral.
Etika mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk,
dan tanggung jawab.
St. John of Damascus (abad ke-7 Masehi)
menempatkan etika di dalam kajian filsafat praktis (practical philosophy).
Etika dimulai bila manusia merefleksikan
unsur-unsur etis dalam pendapat-pendapat spontan kita. Kebutuhan akan refleksi
itu akan kita rasakan, antara lain karena pendapat etis kita tidak jarang
berbeda dengan pendapat orang lain. Untuk itulah diperlukan etika,
yaitu untuk mencari tahu apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia.
Secara metodologis, tidak setiap hal
menilai perbuatan dapat dikatakan sebagai etika. Etika memerlukan sikap kritis,
metodis, dan sistematis dalam melakukan refleksi. Karena itulah etika merupakan
suatu ilmu. Etika adalah tingkah laku manusia. Akan tetapi berbeda dengan
ilmu-ilmu lain yang meneliti juga tingkah laku manusia, etika memiliki sudut
pandang normatif. Maksudnya etika melihat dari sudut baik dan buruk terhadap
perbuatan manusia.
Etika mikro dan etika
makro
Etika Mikro
berkaitan dengan standard dan prinsip yang mengarahkan praktek. Etika makro atau
etika sosial, “berkaitan dengan aturan dan nilai organisasi serta prinsip etis
yang mendasari dan membimbing kebijakan-kebijakan sosial” (Conrad, 1988: 604).
Perilaku etis
Perilaku
etis merupakan tindakan yang mempertahankan kewajiban-kewajiban moral dan ketaatan
terhadap standard-standard praktek sebagaimana dinyatakan oleh kode etik. Kode
etik berasal dari landasan nilai-nilai profesi. Dalam mendiskusikan tanggung
jawab etis Max Weber, Levy (1973).
Landasan nilai-nilai
pekerjaan sosial profesional
Nilai-nilai
mengandung akar kesejarahan dan praktek pekerjaan sosial kontemporer. Memahami
perubahan pada nilai-nilai yang terjadi mengakibatkan fokus nilai-nilai umum
pekerjaan sosial kontemporer semakin tajam. Selama bertahun-tahun, fokus nilai-nilai
pekerjaan sosial berubah dari kepedulian terhadap moralitas klien individu
menjadi kepedulian terhadap moralitas perilaku profesional (Reamer, 1990;
1994).
1. Berfokus pada moralitas
Moralitas adalah kesadaran akan loyalitas pada
tugas-tanggungjawab (UB : 942:1). Moralitas berasal dari dalam kepribadian
manusia itu sendiri. Binatang tidak memiliki moralitas karena tidak memiliki
kepribadian.
Sebagai pekerja sosial haruslah mampu memiliki
kepribadian diri sediri dan dapat memahami klien demi mendapatkan tugas sebagai
pekerja sosial profesional.
2. Pentingnya moral
bagi profesi
Social caseworker memiliki
kebutuhan akan suatu sistem pemikiran tentang nilai-nilai sosial yang tidak
hanya untuk mengklarifikasikan tujuan umumnya dan mengarahkannya dalam kaitan
dengan teori-teori kemajuan sosial, tetapi juga memandunya dalam setiap kontak
profesional. Pertanyaanpertanyaan praktis di bawah ini mengilustrasikan
kebutuhan akan suatu filosofi:
·
Apa hak-hak klien
sebagai seorang individu?
·
Apa kewajibannya
kepada keluarganya?
·
Dalam keadaan apa
dianggap baik untuk mempertahankan suatu keluarga tidak berantakan?
·
Dalam keadaan apa
dianggap baik untuk menghancurkan suatu keluarga? (misalnya, nilai-nilai apa
yang dianut oleh individu, kelompok, masyarakat?)
·
Apakah kekerasan
dibenarkan pada kasus tertentu?
·
Sejauh mana dan kapan
dependensi individual menjadi tanggung jawab publik, sejauh mana dan kapan menjadi
tanggung jawab privat?
·
Kebutuhan-kebutuhan
sosial individual apa yang menjadi tanggung jawab publik: pendidikan, pemeriksaan
kesehatan, pemeriksaan jiwa, bimbingan kerja, rekrerasi, dan seterusnya?
·
Sejauh mana
lingkungan sosial harus diubah demi kepentingan orang sakit atau orang yang
tidak dapat menyesuaikan diri?
·
Dalam keadaan apa,
kalau ada, kerahasiaan klien dilanggar oleh social caseworker?
·
Apakah social
caseworker bertanggung jawab atas penegakan hukum? (American Association of
Social Workers, 1929: 28).
3. Nilai-nilai umum
pekerja sosial
Landasan nilai profesi
pekerjaan sosial mencerminkan keyakinan-keyakinan
yang mendasar tentang hakekat manusia,
perubahan, dan kualitas yang melekat padanya: Dengan nilai-nilai ini sebagai
prinsip-prinsip yang menegaskan, tujuan-tujuan pekerjaan sosial ialah:
· Meningkatkan
kesejahteraan manusia dan memerangi kemiskinan, tekanan, dan bentukbentuk lain
ketidakadilan sosial.
· Meningkatkan
keberfungsian sosial dan interaksi individu, keluarga, kelompok, organisasi,
dan masyarakat dengan melibatkan mereka dalam mencapai tujuan-tujuan,
mengembangkan sumberdaya-sumberdaya, dan mencegah serta mengurangi ketegangan.
· Merumuskan dan
melaksanakan kebijakankebijakan, pelayanan-pelayanan, dan programprogram sosial,
yang memenuhi kebutuhankebutuhan dasar manusia dan mendukung pengembangan
kemampuan-kemampuan manusia.
· Mengejar
kebijakan-kebijakan, pelayananpelayanan, dan sumberdaya-sumberdaya melalui advokasi
dan tindakan-tindakan sosial atau politk
· yang
mempromosikan keadilan sosial dan eknomi.
· Mengembangkan dan
memanfaatkan penelitian, pengetahuan, dan keterampilan-keetrampilan yang memajukan
praktek pekerjaan sosial.
· Mengembangkan dan
menerapkan praktek di dalam konteks kebudayaan-kebudayaan yang beraneka ragam.
(h. 6).
Konteks
nilai pekerjaan sosial
Nilai dalam
pekerjaan social terdiri atas lingkungan sosio-kultur, lembaga pelayanan,
kelayan, dan peksos. Dalam konteks interelasi, jika keempat system nilai di
atas berinteraksi maka berpotensi menimbulkan persaingan nilai dan konflik
loyalitas. Lihat gambar di bawah ini:
Socio-political-cultural
context
|
Masyarakat dan
nilai-nilai
Pada
level analisis yang paling makro, nilai-nilai sosial dan budaya memberikan
konteks yang lebih luas bagi pemahaman interaksi antara sistem klien dan
pekerja sosial. Nilai-nilai sosial dan budaya nampak jelas pada
keyakinan-keyakinan dan tradisi-tradisi yang dianut secara umum.
Nilai-nilai dan profesi
pekerjaan sosial
Nilai-nilai
masyarakat mempengaruhi individu, kelompok, badan sosial, pekerja sosial, dan
profesi pekerjaan sosial. Akan tetapi, elemenelemen ini juga mempengaruhi
nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat. Bertha Capen Reynolds (1951)
mendeskripsikan hubungan yang tidak terpisahkan antara pekerjaan sosial dan masyarakat:
Badan sosial dan
nilai-nilai
Apabila
badan sosial menyatakan pentingnya martabat dan harga diri manusia, komunikasi
dalam relasi antar- dan interbadan sosial dan dalam relasi dengan klien harus
memperlihatkan penghormatan terhadap nilai-nilai itu. Apabila nilai-nilai badan
sosial mencakup penghormatan atas keberagaman, pola-pola staffing,
program-program dan pelayanan -pelayanan, dan gaya organisasi harus
mencerminkan multikulturalisme. Apabila nilai-nilai badan sosial menekankan
pemberdayaan, kemudian menekankan suatu fokus pada kekuatan-kekuatan, kemitraan
yang kolaboratif, dukungan bagi kegiatan-kegiatan aksi sosial, dan penglibatan konsumen
dalam perencanaan, pengembangan kebijakan, pengembanagan staf, evaluasi
program, dan penelitian semuanya harus nampak jelas. Badan-badan sosial yang efektif
berusaha terus menerus untuk menyesuaikan realitas penyelenggaraan pelayanan
sehari-hari dengan cita-cita visinya tentang nilai-nilai.
Suatu
badan sosial diwajibkan untuk memegang teguh nilai-nilai profesi. Badan-badan
sosial mendorong praktek etis dengan mengembangkan sistem akuntabilitas,
memprakarsai proses-proses diskusi antarsesama rekan sekerja, mensponsori pelatihan
dalam jabatan dan konsultasi yang berfokus pada isu-isu etika dalam praktek
pekerjaan sosial, melembagakan prosedur-prosedur permohonan, dan
mengorganisasikan suatu majelis kode etik dalam pekerjaan sosial untuk mengkonsultasikan
dilema-dilema yang sulit (Lowenberg, Dolgoff,
& Harrington, 2000).
Dalam
suatu lembaga harus jelas maksud dan tujuan dari lembaga tersebut, yang meliputi
:
Tata
kerja, prosedur kerja sama, administrasi, tugas personal sampai dengan
penanganan kepentingan klien.
Sistem klien dan
nilai-nilai
Semua
manusia memiliki seperangkat nilai-nilainya sendiri yang unik. Faktor-faktor
yang mempengaruhi nilai-nilai meliputi warisan ras atau etnis, jender, level
pendidikan, dan status sosial ekonomi. Kita boleh mencoba untuk menggeneralisasikan
keinginan-keinginan nilai dari kelompok-kelompok etnis dan budaya. Akan tetapi,
penting diingat bahwa tentu saja ada variasi-variasi yang cukup besar di dalam
setiap kelompok. Solomon (1983) menekankan adanya perbedaan-perbedaan kelompok
ketika berdiskusi dengan orang-orang yang tertindas.
Masalah yang dihadapi
saat ini dan nilai-nilai
Masalah-masalah
klien seringkali sarat nilai. Masalah-masalah klien pada hakekatnya bersifat
moral atau etis, yang penuh dengan konflik-konflik nilai dan dilema-dilema
etis. Klien juga memperlihatkan perilaku-perilaku yang membahayakan diri mereka
sendiri dan orang lain (Siporin, 1985), Dalam kenyataan, bahkan
“kesulitan-kesulitan dalam keberfungsian sosial lebih dipahami sebagai gangguan
tindakan dan relasi moral” (h. 230). Isu-isu nilai termasuk perasaan tentang
masalah, hakekat pembuatan keputusan moral tentang banyak masalah, dan
penilaian masyarakat bahwa suatu perilaku tertentu ialah imoral, penuh dengan
masalah yang klien hadapi.
Nilai-nilai pribadi
pekerja sosial
seorang
profesional tidak berarti menyerahkan semua nilai-nilai. Melainkan pekerja sosial
harus mengembangkan suatu pemahaman bagaimana sudut pandang pribadi mereka
mendasari keberfungsian profesional mereka. Pertanyaan yang kritis ialah apakah
nilai-nilai pribadi menimbulkan hambatan-hambatan. Apabila pekerja sosial
dikuasai oleh nilai-nilainya sendiri atau memaksakan nilai-nilainya kepada
klien, ia cenderung kurang memahami peran nilai-nilai klien (Levy, 1976).
Kode etik pekerjaan sosial
Kode
etik memandu pengambilan keputusan, mengatur perilaku profesional, dan menetapkan
suatu standard yang digunakan untuk mengevaluasi profesi.
Kode
etik:
a.
Memberikan
praktisioner panduan ketika dihadapkan pada dilema praktek yang meliputi
isu-isu etis.
b.
Melindungi publik
dari praktisioner yang berpraktek seperti dukun dan tidak berkompeten.
c.
Melindungi profesi
dari kendali pemerintah; pengaturan diri lebih diinginkan daripada pengaturan
pemerintah.
d.
Memudahkan
rekan-rekan pekerja sosial profesional untuk hidup dalam harmoni dengan satu
sama lain dengan mencegah penghancuran diri yang disebabkan oleh perselisihan
internal.
e.
Melindungi pekerja
sosial profesional dari prpses peradilan; praktisioner yang mengikuti kode etik
diberikan beberapa perlindungan apabila dituntut atas malpraktek. (Lowenberg
& Dolgoff, 1992: 34).
Kode etik cenderung ditulis dalam
istilah-istilah yang umum untuk mencerminkan filosofi profesi dan merupakan
suatu model bagi perilaku profesional. Kode etik memberikan panduan yang sangat
jelas bagi pekerja sosial profesional ketika situasi yang sedang dihadapi
memberikan suatu pilihan antara keputusan yang baik dan keputusan yang buruk.
Kode etik kurang definitif ketika menseleksi serangkaian tindakan yang
berdasarkan atas suatu pilihan di antara dua keputusan yang baik atau dua
keputusan yang buruk (Lowenberg, Dolgoff, & Harrington, 2000).
KODE ETIK INTERNASIONAL:
Ada banyak Asosiasi Sosial
Internasional yang mengemukakan tentang kode etik. Salah satu kode etik
internasional The NASW Kode Etik melayani enam tujuan:
1. Kode mengidentifikasi nilai-nilai inti
yang misi pekerjaan sosial ini didasarkan.
2. Kode ini merangkum prinsip-prinsip etika
yang luas yang mencerminkan nilai-nilai inti profesi dan menetapkan seperangkat
standar etika tertentu yang harus digunakan untuk memandu praktek pekerjaan
sosial
3. Kode ini dirancang untuk membantu para
pekerja sosial mengidentifikasi pertimbangan relevan ketika profesional konflik
kewajiban atau ketidakpastian etis muncul.
4. Kode menyediakan standar etika yang
masyarakat umum dapat memegang profesi pekerjaan sosial akuntabel.
5. Kode mensosialisasikan praktisi baru ke
lapangan untuk misi pekerjaan sosial, nilai-nilai, prinsip-prinsip etika, dan
standar etika.
6. Kode berartikulasi standar bahwa profesi
pekerjaan sosial itu sendiri dapat digunakan untuk menilai apakah pekerja
sosial telah terlibat dalam perilaku tidak etis. NASW memiliki prosedur resmi
untuk mengadili keluhan etika diajukan terhadap anggotanya.
Dalam Kode Etik ini, pekerja sosial diminta
untuk bekerja sama dalam pelaksanaannya, berpartisipasi dalam proses ajudikasi
NASW, dan mematuhi setiap peraturan
disiplin NASW.
Kode ini menawarkan seperangkat nilai-nilai,
prinsip, dan standar untuk memandu pengambilan keputusan dan melakukan ketika
isu-isu etis muncul. Ini tidak memberikan seperangkat aturan yang mengatur
bagaimana pekerja sosial harus bertindak dalam segala situasi. Aplikasi khusus
dari Kode harus memperhitungkan konteks yang sedang dipertimbangkan dan
kemungkinan konflik antar nilai-nilai Kode Etik, prinsip, dan standar. Tanggung
jawab etis mengalir dari semua hubungan manusia, dari pribadi dan keluarga
dengan sosial dan profesional.
Kode etik profesional. Ternyata, pekerja
sosial profesional harus mengarahkan dirinya sendiri secara tepat dengan
mengintegrasikan perilaku profesionalnya dengan perilaku personalnya.
Prinsip-prinsip etika pekerjaan sosial
Pekerja
sosial mentransformasikan nilai-nilai profesi yang abstrak ke dalam
prinsip-prinsip praktek. Kemudian mereka menerjemahkan prinsip-prinsip ini ke
dalam suatu tindakantindakan yang konkret dalam situasi-situasi yang spesifik.
Nilainilai secara abstrak membentuk cara berpikir pekerja sosial dan secara
konkret mengarahkan tindakan-tindakannya melalui prinsip-prinsip bagi
praktek pekerjaan sosial (Biestek, 1957; Goldstein, 1973; Levy, 1976; Perlman,
1976; Siporin, 1975; (Lowenberg & Dolgoff, 1992: 34). :
1.
Penerimaan
Pekerja sosial yang menerima klien
memperlakukan mereka secara manusiawi dan secara baik serta memberikan mereka martabat
dan harga diri (Biestek, 1957).
2.
Individualisasi
Semua manusia unik dan memiliki
kemampuan-kemampuan yang berbeda. Ketika pekerja sodial menegaskan individualitas
klien, ia mengakui dan menghargai kualitas keunikan dan perbedaan-perbedaan
individual itu. Ia memperlakukan klien sebagai manusia yang memiliki hakhak dan
kebutuhan-kebutuhan, bukan sebagai obyek, kasus.
3.
Pengungkapan
perasaan yang bertujuan
Emosi adalah suatu bagian yang integral
dari kehidupan manusia, dan manusia mengalami serangkaian perasaanperasaan
(Biestek, 1957). Walaupun tidak bijaksana untuk mendorong klien menyemburkan
sentimen secara sembarangan atau terlibat secara tidak terkendali dengan perasaan-perasaan
marah atau negatif, pekerja sosial harus mengarahkan klien untuk mengungkapkan
perasaanperasaanya secara bertujuan.
4.
Sikap-sikap
tidak menghakimi
Sikap-sikap tidak menghakimi merupakan
landasan bagi relasi kerja yang efektif. Pernyataan bahwa semua manusia memiliki
martabat dan harga diri membentuk landasan bagi sikap-sikap tidak menghakimi;
sikap-sikap tidak menghakimi mengandung unsur penerimaan.
5.
Obyektivitas
Prinsip praktek obyekivitas, atau
menguji situasi-situasi tanpa bias, berkaitan sangat erat dengan pandangan yang
tidak menghakimi. Agar obyektif, pekerja sosial menghindari masuknya
perasaan-perasaan dan prasangka-prasangka buruk pribadinya ke dalam relasinya
dengan klien.
6.
Penglibatan
emosi secara terkendali
Pekerja sosial yang mengendalikan
keterlibatan emosionalnya dengan klien memperoleh perspektif dari pemahamannya akan
perilaku manusia, mencari arah bagi relasi dari ujuan umum profesi pekerjaan
sosial, dan merespons perasaan-perasaan klien secara sensitif (Biestek, 1957).
7.
Penentuan nasib sendiri
Dengan
prinsip klien berhak menentukan nasibnya sendiri, pekerja sosial mengakui “hak
dan kebutuhan klien untuk bebas dalam membuat pilihan-pilihan dan
keputusankeputusannya sendiri” (Biestek, 1957: 103). Penentuan nasib sendiri
mengakui bahwa pertumbuhan yang sehat berasal dari dalam, atau seperti
dikatakan oleh Hollis (1976).
8.
Akses kepada sumberdaya daya
Memiliki
akses kepada sumberdaya-sumberdaya ialah prasyarat bagi pengembangan solusi.
Sumberdayasumberdaya yang terbatas mengurangi opsi atas solusi-solusi, dan
tanpa opsi, manusia tidak dapat memilih di antara alternatif-alternatif. Semua
manusia menyandarkan diri pada sumberdaya-sumberdaya untuk memenuhi tantangan-tantangannya
dan mewujudkan potensinya.
9.
Kerahasiaan
Kerahasiaan
atau hak atas privasi berarti bahwa klien harus memberikan izin yang cepat
untuk membuka informasi seperti identitasnya, percakapannya dengan pekerja
sosial, pendapat pekerja sosial tentang dia, atau catatan-catatan kasusnya (Barker,
2003). Karena klien seringkali membicarakan bahan-bahan yang sensitif dan
pribadi dengan pekerja sosial, menjaga kerahasiaan atau privasi adalah sangat
penting untuk mengembangkan kepercayaan, suatu unsur kunci dalam relasi kerja
yang efektif.
10.
Akuntabilitas
Akuntabilitas artinya bahwa pekerja
sosial harus berkompeten dalam metode-metode dan teknik-teknik yang ia terapkan
dalam praktek profesionalnya. Ini berarti bahwa pekerja sosial melaksanakan
secara sungguh-sungguh kewajibannya untuk memperbaiki praktek-praktek yang diskriminatif
dan tidak manusiawi, bertindak sesuai dengan integritas profesi yang tidak
terbantahkan, dan mengimplementasikan aturan-aturan praktek dan penelitian yang
sehat.
BAB
III
PEMBAHASAN
Setelah
membaca dan memahami lebih jauh tentang Nilai dan etika pekerjaan sosial dari
berbagai teori yang dikemukakan diatas tentulah ada pandangan yang berbeda dari
pemaknaan dari sebuah nilai dan etika itu sendiri.
Banyak teori yang mengemukakan
tentang nilai dan teori pekerjaan sosial namun dari teori yang ada, ada
beberapa hal yang membuat teori itu melenceng dari arti sesungguhnyah.
Nilai-nilai
mengandung akar kesejarahan dan praktek pekerjaan sosial kontemporer. Memahami
perubahan pada nilai-nilai yang terjadi mengakibatkan fokus nilai-nilai umum
pekerjaan sosial kontemporer semakin tajam. Selama bertahun-tahun, fokus nilai-nilai
pekerjaan sosial berubah dari kepedulian terhadap moralitas klien individu
menjadi kepedulian terhadap moralitas perilaku profesional (Reamer, 1990;
1994).
Ada beberapa
pandangan teori dari para ahli tentang pengertian Nilai :
Du Bois
Jaringan nilai yang kompleks yang dibangun
oleh manusia, baik secara individu maupun kolektif, untuk mempertahankan
kehidupan manusia.
Pandangan
yang lain :
Kimball
Young
Mengemukakan
nilai adalah asumsi yang abstrak dan sering tidak disadari tentang apa yang
dianggap penting dalam masyarakat.
A.W.Green
Nilai adalah
kesadaran yang secara relatif berlangsung disertai emosi terhadap objek.
Woods
Mengemukakan
bahwa nilai merupakan petunjuk umum yang telah berlangsung lama serta
mengarahkan tingkah laku dan kepuasan dalam kehidupan sehari-hari
M.Z.Lawang
Menyatakan
nilai adalah gambaran mengenai apa yang diinginkan,yang pantas,berharga,dan
dapat memengaruhi perilaku sosial dari orang yang bernilai tersebut.
Hendropuspito
Menyatakan
nilai adalah segala sesuatu yang dihargai masyarakat
karena mempunyai daya guna fungsional bagi perkembangan kehidupan manusia.
Karel J. Veeger
Memandang
nilai-nilai sebagai pengertian-pengertian (sesuatu di dalam kepala orang)
tentang baik tidaknya perbuatan-perbuatan. Dengan kata lain, nilai adalah hasil
penilaian atau pertimbangan moral.
Dari teori
yang ada hal yang kurang lengkap yang dimiliki oleh seorang pekerja sosial
diantaranya :
ü
Kejujuran
(Honesty) :
Pekerja sosial
haruslah mengupayakan sifat kepribadian yang jujur dan terbuka demi menjaga
jiwa profesionalitas seorang pekerja sosial.
ü
Mengejar
keunggulan (pursuit of excellence) :
Pekerja sosial
profesional haruslah dapat meningkatkan kualitas pribadi untuk dapat
berinteraksi dengan individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.
ü
Dapat
dipertanggungjawabkan (accountability)
Kebanyakan tugas dari seorang
pekerja sosial dalam menjalankan tanggungjawabnya tidak sesuai dengan apa yang
kita harapkan baik kepada klien maupun dari lingkungan yang ada.
BAB
IV
Kesimpulan
dan Saran
Kesimpulan:
Ada
banyak pengertian tentang Nilai dan etika itu sendiri mulai dari yang abstrak
sampai munculnya perilalu yang nampak
pada manusia itu sendiri.
Nilai
dan etika merupakan suatu hal yang dimiliki oleh manusia sesuatu yang menjadi
pegadangan dan tolak ukur, disisi lain manusia berusaha untuk dapat menjadikan
individu yaang lain sebagai ukuran dan individu itu sendiri berusaha menjaga
dirinya sendiri ditengah individu yang lain dan masyarakat yang ada.
Manusia
yang sempurna adalah manusia yang mampu berinteraksi dengan manusia yang lain,
jika ada manusia yang hidup dengan dirinya sendiri itu tidak akan berlangsung
lama, karna manusia yang satu dengan yg lainnya saling membutuhkan.
Sifat manusia pada umumnya ada yang
baik dan ada pula yang buruk, namun yang buruk pula membutuhkan manusia yang
lain.
Saran:
ü Bagaimana pun sifat manusia
kita harus mampu menerima, karena manusia itu diberikan otak untuk berfikir,
dan ada masa pasti manusia yang buruk bisa menjadi baik dari apa yang dia
lakukan.
ü Kita harus mampu menguasai
diri kita dan tidak terjebak pada suasana yang tidak nyaman, walaupun kita tahu
setiap individu itu berbeda-beda dan jangan melakukan tindakan berlawanan.
0 komentar:
Posting Komentar